Mencintai apapun haruslah ditanamkan sejak usia dini, termasuk mencintai buku-buku bacaan. Jika sejak usia dini anak telah menempatkan buku-buku di hatinya, diharapkan kelak ketika menginjak dewasa mereka telah menyatu dengan buku. Inilah yang diharapkan oleh Dede Saadah, Kepala Madrasah Diniah (MADIN) Awaliyah Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.
Bunda – sapaan akrabnya – berupaya menanamkan kecintaan pada buku-buku bacaan itu kepada anak-anak didiknya, yang secara umum masih berusia TK dan SD. “Ya, mencintai buku itu susah lho, apalagi menyatu dengannnya. Saya berharap, dengan mengarahkan mereka untuk mencintai buku sejak usia dini, kelak ketika dewasa mereka tak perlu lagi diarahkan,” ujarnya. saat mendampingi anak didiknya membaca-baca buku cerita anak di Majelis Qothrotul Falah beberapa waktu lalu.
Untuk tujuan itu, selain terus memberikan motivasi positif kepada mereka, Bunda juga meminjamkan buku-buku bacaan anak-anak kepada mereka. Diantara yang digemari mereka adalah cerita-cerita bergambar terbitan Search for Common Ground (SFCG) Jakarta. “Ya, kita pernah dikasih buku-buku untuk anak-anak dari SFCG. Dan anak-anak di sini tampak suka,” katanya.
Tak jarang, buku-buku bacaan anak yang jumlahnya terbatas dibanding peminatnya itu, menjadi rebutan. “Kadang sampai tarik-tarikan, karena berebut ingin dulu-duluan membaca,” ceritanya. “Itu sebabnya, anak-anak di sini yang jumlahnya sekitar 80-an perlu mendapat suplay buku-buku lain, sehingga pilihan bacaannya kian banyak dan bervariasi,” sambungnya.
Bunda berharap, pihak-pihak yang peduli dengan pendidikan turut memperhatikan masa depan pendidikan anak-anak di kampungnya, Sarian Koncang Cikulur Lebak Banten. “Tanpa perhatian kita semua, apalah artinya cita-cita yang kita harapkan. Praktis akan sangat sulit terwujud,” ungkapnya.
Namun demikian, Bunda tetap mengungkapkan kebahagiaannya dengan kondisi buku yang ada, yang jumlahnya baru puluhan. “Kalau bukunya sedikit, mereka rebutan, itu kelihatan banget. Berarti mereka antusias. Ini yang membanggakan,” ujarnya. “Semoga antusias membaca ini terus bertahan hingga mereka meninggal dunia,” harapnya.
Dengan niat memajukan pendidikan, kata Bunda, dirinya bersama rekan-rekan guru lainnya akan terus berupaya menanamkan minat baca ini, apapun kondisinya. “Hatta kendatipun kita tidak punya buku banyak, apapun yang bisa dibaca harus mereka baca. Kendati keterbatasan ada di mana-mana, penanaman kecintaan buku tetap harus tumbuh,” katanya lagi.
Alhamdulillah-nya, terang Bunda, di Pondok Pesantren Qothrotul Falah terdapat Pondok Baca Qi Falah yang menyimpan ribuan koleksi buku. “Memang yang untuk anak-anak masih belum banyak. Namun setidaknya bisa menjadi penyaluran kelak ketika mereka sudah dewasa,” katanya optimis.[enha]











