Pondok Pesantren Qothrotul Falah
Jl. Sampay-Cileles Km. 5 Ds. Sumurbandung
Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten 43256

E-mail : info@qothrotulfalah.com
Phone : 0813 1777 3857 0812 8262 4775           
0819 1096 1388
Sabtu Agustus 02, 2014
Kiprah Kader NU di MUI Lebak
Minggu, 20 May 2012 22:25

Oleh KH. Achmad Syatibi Hambali*

TAK DIPUNGKIRI LAGI, Nahdhatul Ulama (NU) merupakan organisasi masyarakat (Ormas)/keagamaan terbesar di Indonesia, dengan jumlah penganut puluhan juta. Mereka, penganut Ormas tradisional yang diinisiasi oleh KH. Mohammad Hasyim Asy’ari (dari Tebuireng Jombang Jawa Timur) pada 1926 ini, tersebar luas di seluruh wilayah negeri, terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Mereka, dalam menjalani aktivitasnya, juga menyebar di berbagai sendi kehidupan.

Dalam konteks Propinsi Banten misalnya, aktivitas kaum nahdhiyyin – sebutan populer untuk penganut NU – tentu saja juga menyebar di berbagai lini kehidupan, baik internal maupun eksternal pemerintahan. Di internal pemerintahan, tak sedikit kader NU yang menempati posisi penting sebagai birokrat. Sedang di eksternal pemerintahan, tak sedikit pula yang berkiprah di dunia politik, aktivitas sosial, pengusaha, pegawai kantoran dan seterusnya. Ibarat air, sebaran atau alirannya merembes ke mana-mana menempati ruang-ruang kosong.

Untuk lingkup Kabupaten Lebak sendiri, umpanya, kader-kader NU juga menyebar di berbagai bidang kehidupan. Bahkan, kader NU Ir. Amir Hamzah, M.Si. (pernah menjadi Sekretaris Tanfidziyah PCNU Lebak), dipercaya menjadi Wakil Bupati Lebak Periode 2008-2013, mendampingi Bupati Mulyadi Jayabaya. Belum lagi di organisasi-organisai sosial-kemasyarakatan maupun kepemudaan lainnya, kader NU niscaya menjadi urat nadi pergerakan di sana.

Uraian selintas di atas, tentu saja masih jauh dari detail dan memadai, utamanya terkait basis data riil di lapangan. Namun setidaknya, uraian itu bisa memberikan gambaran awal secara jujur, bahwa keberadaan kader-kader NU – dalam hal ini saya tidak berpretensi memisah dan memilah antara kader NU struktural maupun kader NU kultural – tidak bisa dinafikan begitu saja dalam pusaran arus kehidupan ini. Kendati acapkali disebut kelompok pinggiran yang  bersarung, toh dalam kenyataannya, pergerakan mereka terus dinamis, menyebar di berbagai lini, dan memiliki warna tersendiri.

Kader NU di MUI
Dalam konteks nasional, propinsi maupun kabupaten, organisasi kemasyarakatan/keagamaan yang dinilai representatif sebagai rujukan atau referensi persoalan-persoalan keagamaan adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pasalnya, organisasi yang muncul pada zaman Orde Baru Soeharto ini dinilai sebagai satu-satunya lembaga “resmi” yang berisikan tokoh-tokoh agama Islam dari berbagai afiliasi organisasi keagamaan, baik organisasi besar maupun kecil.  

Itu sebabnya, jika representasi Ormas ada di sana, maka secara kultural Ormas yang bersangkutan akan dinilai absah dan legitimit oleh masyarakat. Dan nyatanya, representasi atau keterwakilan yang paling dominan di sana adalah dari NU, mengingat NU sebagai wadah keagamaan terbesar. Dalam konteks nasional, sering sekali kader NU menjadi Ketua Umum MUI, termasuk yang sekarang, KH. M.A. Sahal Mahfudz dari Pati Jawa Tengah. Kepengurusan di bawahnya pun demikian halnya, terisi oleh banyak kader NU.

Hal sama terjadi dalam kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak Propinsi Banten (selanjutnya disebut MUI Lebak). Sejak didirikan pada 1975, pengurusnya banyak diisi (lebih tepatnya didominasi) oleh kader-kader NU, kendati ada juga kader-kader Muhammadiyah, Persis, DDII dan selainnya. Di posisi tertinggi, ketua misalnya, dari awal kepengurusan hingga kini, MUI Lebak belum pernah dijabat oleh selain kader NU. Adapun Ketua-ketua MUI Lebak itu, adalah:

Pertama, KH. Ahmad Hakiki Atim (1975-1980). Kiai Hakiki merupakan kader NU pertama yang diberi amanah memimpin MUI Lebak untuk pertama kalinya. Beliau hanya menjabat satu periode. Kendati tokoh NU, beliau tidak memimpin pesantren sebagaimana kiai-kiai NU pada umumnya. Beliau lebih aktif di Jamiyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) Kab. Lebak.  (Mohon maaf, artikel sederhana ini sengaja tidak menampilkan kebijakan-kebijakan beliau sebagai Ketua MUI sekaligus sebagai kader NU terkait aktifitasnya di MUI Lebak).

Kedua, KH. Mohammad Yusuf (1980 s.d. 1997). Abah Yusuf – sapaan akrabnya – adalah kader NU tulen. Beliau menjabat Ketua MUI Lebak selama tiga setengah periode. Masa jabatan yang cukup lama. Ini terjadi tak lain karena senioritasnya di tengah para tokoh agama di Kabupaten Lebak. Beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Wasilatul Falah (Wasfal) Pasir Sukarayat Rangkasbitung Lebak, sebuah pesantren tradisional tua di wilayah Lebak yang menahbiskan dirinya sebagai pesantren bertradisi NU dan penjaga gawang amaliah NU.

Selain amaliahnya yang khas NU (qunut subuh, dzikir, wiridan, ziarah kubur, hadharat, tawasul, dsb) sebagaimana pesantren-pesantren NU di Jawa,  di Kabupaten Lebak Pondok Pesantren Wasilatul Falah (kini telah memiliki MTs, MA dan STAI Wasilatul Falah) merupakan satu-satunya pesantren yang secara nyata berani memasang logo NU bintang sembilan sebagai kebanggaan. Inilah pesantren yang diinisiasi oleh Abah Yusuf, Ketua MUI Lebak masa-masa awal yang nota bene kader NU tulen. Tak heran, jika para mahasiswanya lebih dominan menjalani dunia aktivismenya di PMII, IPNU, IPPNU, PC Anshor, dan badan otonom lainnya di bawah struktural PC NU Lebak.

Abah Yusuf, selain ber-NU secara kultural melalui lembaga pendidikan yang dikembangkannya, juga ber-NU secara struktural. Sebagai “orang tua” di kalangan NU kultural dan struktural, lelaki berdarah Maulana Sultan Hasanuddin Banten  ini senantiasa ditempatkan di lingkungan mustasyar PC-NU Lebak. Penempatan ini mencerminkan senioritasnya di kalangan tokoh NU. Dan beliau yang “berdarah NU” inilah yang pertama kali berkesempatan menempati posisi tertinggi dalam struktur kepengurusan MUI Lebak. Inilah kiprah pertama kader NU dalam organisasi keagamaan di Kab. Lebak.

Ketiga, KH. Nurdin Tajri (1997 s.d. 2007). Berbeda dengan Abah Yusuf yang kental nuansa tradisionalismenya, lengkap dengan pesantren khas NU-nya, Kiai Nurdin sedikit berbeda. Beliau merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Departeman Agama (Depag) Kabupaten Lebak, yang sempat menempati posisi Kepala Seksi (Kasi). Namun demikian, baik secara kultural maupun struktural, Ketua MUI Lebak dua periode ini juga sarat tradisi NU. Dalam wilayah struktural PCNU Lebak, sebagaimana kiai sepuh lainnya, beliau juga ditempatkan di wilayah mustasyar, tempat terhormat bagi orang-orang terhormat.       

Kiai Nurdin memang tidak memiliki pesantren tradisional a la NU, namun ke-NU-annya tidak bisa diragukan lagi. Pikiran, hati dan “darah”-nya kental tradisi NU. Kiprahnya di NU juga tidak bisa dianggap sepele. Itu sebabnya, ketokohannya di kalangan NU turut mengantarkannya menjadi Ketua MUI Lebak. Dengan demikian, sebagai kader NU, beliau bisa berkiprah secara serius dan lebih luas lagi melalui MUI Lebak untuk kepentingan umat. Tak heran, kepercayaan masyarakat menyebabkannya terpilih sebagai Ketua MUI Lebak hingga dua periode.

Keempat, saya sendiri (2007 s.d. 2017). al-Hamdulillah, saya diberi amanah untuk memimpin MUI Lebak dua periode, yaitu 2007-2012 dan 2012-2017. Ini bukan amanah main-main yang bisa dibuat mainan. Ini berat dan butuh dukungan semua pihak. Tanpa dukungan itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun al-hamdulillah, kendati berat dan tak mudah, periode pertama bisa saya lalui dengan semaksimalnya, walaupun masih banyak kekurangan di sana sini. Mudah-mudahan di periode kedua, yang baru berjalan beberapa bulan ini, kepemimpinan MUI Lebak semakin baik dan manfaat bagi umat.

Seperti Abah Yusuf dan Kiai Nurdin, saya pun kader NU tulen, baik secara kultural maupun struktural. Secara kultural, amaliah saya sangat NU, dan karenanya saya mendirikan Pondok Pesantren Qothrotul Falah di Cikulur Lebak Banten, yang mengajarkan tradisi dan pengajian khas NU. Amaliah-amaliah NU menjadi bagian sehari-hari kehidupan keagamaan santri di sana.  

al-Hamdulillah, sebagai kader NU yang juga terlibat di mustasyar PCNU Lebak, saya bisa berkiprah di MUI Lebak, dan bahkan dipercaya sebagai ketua selama dua periode. Tentu saja, semua ini atas izin Allah SWT dan atas persetujuan tokoh-tokoh agama yang ada di Kab. Lebak. Dan tentu juga, kiprah saya di sana membawa ke-NU-an yang ada dalam diri saya, kendati secara struktural perjalanan organisasi MUI Lebak lebih bersifat kolektif-kolegial atau kepemimpinan bareng-bareng berlandaskan musyawarah. Karena itu, mudah-mudahan saya dan kader-kader NU lainnya bisa berkiprah lebih nyata lagi melalui MUI Lebak, untuk tujuan kemaslahatan bagi umat; tidak hanya umat NU, melainkan seluruhnya.     

Apa yang saya uraikan di atas, setidaknya bisa menjadi bukti bahwa kader-kader NU Kab. Lebak bisa juga berkiprah di organisasi sekelas MUI yang berisi tokoh-tokoh agama dari berbagai organisasi keagamaan. Kader-kader NU nyatanya tidak ketinggalan dan malah bisa membanggakan, baik bagi organisasi NU secara khusus maupun bagi masyarakat luas secara umum. Bahkan, ketua-ketua MUI Lebak selalu dijabat oleh kader-kader NU. Tentunya, hal ini membanggakan bagi kita semua.   

Tidak hanya di tingkat Ketua MUI Lebak, sejujurnya kepengurusan di bawahnya juga didominasi oleh kader-kader NU. Itu sebabnya, arah laju perahu MUI Lebak tidak bisa dilepaskan dari kiprah kader-kader NU yang aktif di sana. Bahkan, MUI Lebak bisa dibilang sebagai wadah berkumpul kader-kader NU. Semoga, ke depan, kiprah kader-kader NU di MUI Lebak kian nyata dan kian bermanfaat bagi umat. Amin! Wa Allah a’lam.[]

*Ketua MUI Kab. Lebak Periode 2007-2012 dan 2012-2017, dan Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten

Share
Dibaca : 872 kali
 

Add comment

Security code
Refresh