Pondok Pesantren Qothrotul Falah
Jl. Sampay-Cileles Km. 5 Ds. Sumurbandung
Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten 43256

E-mail : info@qothrotulfalah.com
Phone : 0813 1777 3857 0812 8262 4775           
0819 1096 1388
Kamis April 17, 2014
20
Mar 2013
PDF
Cetak
Surel
Percintaan dan Pergaulan Remaja Dalam Pandangan Islam*)

Oleh Huliatin Nufus**)

SETIAP INSAN pasti dianugerahi perasaan cinta, baik cinta yang sifatnya ilahiyah maupun insaniah. Dalam makalah ini kita akan lebih menekankan pada aspek cinta insaniah, rasa cinta yang muncul (timbul) karena faktor pribadi (manusia). Namun, sebelum kita menyelam lebih dalam tentang substansi dan inti cinta, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya cinta itu? Makhluk sejenis apakah ia? Sehingga setiap pribadi senantiasa berusaha dan berupaya mendapatkannya.

Batasan Cinta
Cinta tergolong makhluk misterius yang masih selalu dibalut oleh selimut kerahasiaan. Ia sulit dimengerti dan difahami dengan penjelasan yang mudah dan simpel. Ibnu Hazm al-Dhahari (seorang tokoh Mazhab Fiqh Dhahiri) menyatakan: “Cinta itu tidak dapat dilukiskan, namun harus dirasakan dan dialami”. Komentar Ibnu Hazm ini menunjukkan bahwa hingga saat inipun cinta masih menjadi misteri besar bagi manusia. Disamping Ibnu Hazm al-Dhahiri, dalam buku Untaian Permata Buat Anakku, yang ditulis dengan indah oleh pakar Tafsir al-Quran jebolan Universitas al-Azhar University, M. Quraish Shihab  disebutkan bahwa “cinta berarti kecenderungan hati pada sesuatu.” Ia bersifat universal, tidak tersekat  oleh satu jenis tertentu, manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan. Sifatnya umum, sehingga ketika hati cenderung pada lawan jenis, maka itulah cinta. Tatkala hati kita cenderung pada materi kebendaan, itulah cinta. Hanya saja, pada umumnya, cinta senantiasa dikaitkan dengan problematika remaja, sehingga dalam hal ini cinta mengalami penyempitan makna, karena telah menjadi monopoli makhluk yang bernama manusia.1)

Dari pernyataan tersebut, dapat ditangkap sebuah pengetahuan baru bahwa, “sangat mustahil” orang yang sedang mengalami jalinan cinta kasih, tetapi hatinya tidak memiliki kecenderungan sedikit pun pada yang dicintainya. Dan yang perlu ditelaah lebih jauh, kecenderungan hati ini bersifat umum, baik kecenderungan untuk memiliki, untuk selalu dekat, untuk senantiasa bersua setiap saat dan aneka kecenderungan lainnya. Kecenderungan ini sebenarnya berawal dari faktor keterkesanan seseorang pada sesuatu (laki-laki/perempuan).
Dalam konteks ini cinta seseorang terkesan pada sesuatu yang melekat pada diri si pria/perempuan, baik terkesan pada kecantikan/ketampanannya yang menawan dan mempesona, pada kapabilitas intelektualnya, pada kelembutan pribadinya, ataupun yang cukup remeh-temeh, pada sebuah kacamata yang dikenakannya dengan anggun, dan lain sebagainya. Keterkesanan ini akan menimbulkan kecenderungan hati. Itulah cinta!2)

Cinta juga menimbulkan keanehan. Hal ini biasanya timbul karena adanya perubahan yang terjadi pada diri pelakunya. Perubahan ini disebabkan belum terbentuknya kesiapan kondisi jiwa dalam menghadapi segala konsekuensi yang akan dimunculkan oleh cinta. “Bila datang rasa cinta, hati-hati dan waspada. Jaga, pelihara serta kuasailah.”3) Karena tidak adanya penguasaan itulah, terkadang kita menjadi seorang yang rajin sekolah, shalat berjamaah, padahal sebelum menemukan cinta, kita terkungkung dalam kemalasan. Apa pasal? Di situ ada sosok yang kita cintai, sehingga kita bisa berubah. Dari sini dapat kita tarik hikmah bahwa cinta mengandung dualisme dampak; positif dan negatif. Kalau dengan adanya jalinan cinta kasih, justeru akan membuat diri kita maju dan berkembang, maka dalam posisi ini cinta berdampak positif. Dan bila cinta justeru membuat diri kita berjalan di tempat dan terbelakang, maka cinta berdampak negatif. Sekarang tugas kita bagaimana dapat memanfaatkan jalinan cinta kasih sebagai sarana untuk maju? Bagaimana kita memanfaatkan jalinan cinta kasih tidak hanya sekedar untuk bertemu, tapi sebagai sarana tukar pikiran dan pendapat, misalnya? Nah, jalinan cinta kasih seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan. Bisa kita bayangkan, cinta yang hanya dilandasi nafsu untuk bersua semata, senda gurau, ngobrol yang tak ada artinya, apa yang akan kita dapatkan? Relakah pengetahuan kita hilang karena tertutup olehnya?

Itulah pemaknaan cinta yang secara dominan dipahami oleh kalangan remaja. Padadal cinta sendiri memiliki bentuk yang beragam. Dalam buku Tafsir Sepersepuluh dari al-Quran al-Karim dijelaskan, bahwa terdapat macam-macam mahabbah (kecintaan), yaitu 1) mahabbatullah (cinta kepada Allah), adalah dasar utama keimanan; 2) al-mahabbah fi Allah (cinta karena Allah), yaitu loyalitas pada kaum mukminin dan mencintai mereka secara global; 3) mahabbah ma`allah (kecintaan bersama Allah), yaitu mencintai selain Allah dalam kecintaan yang wajib sama seperti mencintai Allah; dan 4) mahabbah thabi`iyyah (kecintaan yang wajar), seperti mencintai kedua orang tua, anak-anak, makanan dan lainnya. Kecintaan ini adalah boleh.4)

Masalah Cinta
Dalam konteks cinta remaja, cinta selalu dikaitkan dengan hubungan laki-laki/perempuan (pacaran). Inilah yang sejak dulu hingga kini menjadi permasalahan bagi remaja. Karena cinta seringkali tidak membawa kemaslahatan, melainkan justru mendatangkan kemadharatan bagi pelakunya. Pada hakikatnya cinta itu suci, namun para pelakunya yang menodai cinta itu sendiri dengan attitude (sikap) yang tidak sesuai norma-norma agama. Cinta yang mendatangkan kemadharatan adalah cinta yang terselimuti hawa nafsu, kemunafikan, perilaku yang tidak senonoh dan sebagainya oleh para pelaku cinta (remaja) dalam kemaksiatan.

Apalagi gaya berpacaran remaja sekarang selalu identik dengan gaya berpacaran penuh kemaksiatan, seperti binatang yang tak mengenal aturan. Mislanya melakukan seks bebas, bermesraan di tempat-umum, dll. Anehnya, mereka melakukannya tanpa perasaan malu atau berdosa. Terkadang bukan hanya hubungan berpacaran saja yang dipenuhi kemaksiatan, bahkan pemuda-pemudi yang hanya bersahabat saja mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sewajarnya.

Hasil apakah yang didapatkan dari persahabatan muda-mudi yang bebas seperti itu? Marilah kita melihat hubungan (pacaran) ini setelah kita meyakini bahwa cinta adalah pondasi yang tak mendatangkan masalah dan memiliki posisi terhormat dalam agama kita. Pemuda dan pemudi barangkali memiliki perasaan tertentu. Kemudian, ketika merasa bersalah mereka berusaha memperbaiki kesalahan mereka. Namun sayangnya, cara yang ditempuh pun salah yaitu lewat perkawinan diam-diam.

Tentu saja, ini merupakan cara yang mengherankan; seorang pemuda yang merasa bersalah malah berusaha memperbaiki kesalahannya dengan kesalahan yang baru. Karena kemampuan dan kondisi sosial tidak mendukungnya untuk menikah saat masih kuliah, ia pun memberanikan diri untuk melakukan perkawinan diam-diam. Lalu apakah hasil dari pernikahan semacam ini? Dua atau tiga bulan setelah pernikahan, muncullah persoalan. Si pemuda meninggalkan pasangannya bukan lantaran takut dan merasa terhina dengan perkawinan itu, melainkan lantaran merasa berada dalam kondisi yang tidak alami. Ia tidak bisa menghadapi keluarganya. Ia tidak sanggup membawa wanita itu kepada keluarganya, dan ia merasa bahwa wanita itu “murahan” serta rendahan.

Untuk itu, kita harus bertanggungjawab terhadap apapun yang ada pada diri kita, karena diri kita adalah amanah Allah SWT yang harus dipergunakan untuk hal-hal yang baik. Dalam Bidayatul Hidayah karangan Imam al-Ghazali (w. 505 H) dijelaskan, bahwa “Sesungguhnya kamu melakukan maksiat kepada Allah SWT dengan anggota tubuhmu. Padahal, anggota tubuhmu adalah nikmat dari Allah SWT bagimu dan amanat yang ada di tanganmu. Menggunakan nikmat Allah SWT sebagai penolong untuk melakukan maksiat kepada-Nya adalah puncak kekufuran”. Dan mengkhianati amanat yang dititipkan padamu oleh Allah SWT adalah puncak kelaliman. Anggota tubuhmu adalah rakyat-rakyatmu. Karena itu, perhatikanlah bagaimana kamu harus memimpinnya. Sebab, masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian bertanggungjawan atas apa yang dipimpinnya.5)

Cinta yang Sesungguhnya
Max Luscher dengan cukup mengejutkan mengatakan: “Cinta tanpa hasrat seks, seperti kertas kosong yang tak tertulisi”. Apa maksudnya? Cinta itu sama sekali tidak mempunyai nilai seni, hampa dan gersang. Biasanya sebuah pandangan akan selalu terkait erat dengan faktor sosiologis dan latar belakang yang bersangkutan, baik latar belakang keluarga, pergaulan, maupun pendidikan. Ini mungkin karena latar belakang budaya lingkungan yang dia serap penuh dengan aroma seks, sehingga semuanya harus bermotifkan seks. Namun fatwa cinta model Luscher inilah yang banyak diamalkan muda-mudi zaman ini. Ini jelas bertolak belakang dengan konsep cinta sejati. Erick From, misalnya, pernah bertutur: “Cinta adalah untuk memberi tidak untuk menerima.” Cinta sejati seperti inilah yang seharusnya menjadi motivasi awal jalinan kasih, bukan karena faktor lain.6) Karenanya, cinta birahi ala Max Luscher yang banyak dijalani oleh remaja perlu diberi pelurusan, sehingga diharapkan tidak menyimpang dari fitrah cinta itu sendiri.

Bagaimana cinta menurut Islam? Cinta islami senantiasa dibangun di atas pondasi yang bercorak islam; al-Quran dan Hadis. Pandangan Max Luscher tentang cinta yang diidentikkan dengan pemuasan seks itu, karenanya bertolak belakang dengan paradigma dan semangat cinta islami. Pandangan tersebut dilatarbelakangi paradigma Barat yang jauh dari nilai keislaman dan bahkan cenderung bebas tanpa aturan ilahiah. Karenanya, kita perlu mencoba menerapkan konsep cinta yang ditawarkan oleh Islam. Islam menekankan kepada para penjalin (pelaku) cinta kasih untuk mencintai kekasihnya dengan landasan ilahiyah (ketuhanan), semata karena Allah SWT. Dalam salah satu Hadis Qudsi-Nya Allah mengatakan; “Kecintaan-Ku wajib kuberikan kepada orang yang menjalin cinta kasih semata karena Aku” (wajabat mahabbatii li al-mutahabbina fiyya). Disamping itu, Islam juga menekankan kepada pelaku cinta kasih untuk mencintai kekasihnya secara wajar, tidak kelewat batas. Sebab, sesuatu yang ditanamkan secara berlebihan, ketika tercerabut akan meninggalkan luka/bekas yang dalam dan sulit dihilangkan. Orang yang mencintai kekasihnya dengan porsi kecintaan yang berlebihan, ketika ia ditinggalkan (dikhianati) oleh sang terkasih, maka ia akan merasakan sakit hati dan kepedihan yang kelewat batas pula, bahkan boleh jadi menimbulkan kegilaan dan hal ini sering kali terjadi.7)    

Menurut Nurul H. Maarif, konsep “kewajaran cinta kasih” di atas sebenarnya diilhami oleh Hadis Nabi Muhammad Saw yang menekankan kepada pelaku cinta kasih supaya mencintai kekasih hatinya secara biasa-biasa saja (wajar), karena tidak menutup pintu kemungkinan, sang terkasih pada suatu saat justeru akan menjadi musuh yang paling dibenci. Begitu pula terhadap orang yang dibenci, jangan kelewat batas memberikan porsi kebencian kepadanya, karena siapa sangka pada suatu saat nanti ia justeru akan menjadi orang yang paling dicintai dan dikasihi. Semuanya serba mungkin terjadi, dan itulah skenario yang dimainkan oleh Allah SWT dengan cantik, namun  tak terduga. Kekasih adalah sosok yang dekat kepada kita. Rahasia, keluh kesah, beban hati, suka cita, dan hal-hal lainnya dengan tulus ikhlas akan diutarakan kepadanya tanpa sedikit pun terbersit kecurigaan. Rahasia pribadi akan mengalir dengan deras dan lancar ke telinga sang terkasih untuk disemayamkan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Namun demikian, kita perlu menanamkan sikap waspada dan hati-hati, walau terhadap orang yang sangat kita percaya. Kepercayaan belum tentu selamanya akan langgeng sebagai kepercayaan. Kepercayaan dapat berubah menjadi pengkhianatan.8)

Selain “kewajaran cinta”, Islam juga menekankan kepada pelaku cinta kasih untuk memilih kekasihnya berdasarkan tingkat keberagamaan, bukan karena harta, kecantikan, maupun garis keturunan. Selain agama, semuanya hanya keduniaan yang semu penuh ilusi dan belum tentu akan membawa kebahagiaan di akhirat. Jangan kita terpesona oleh kebahagiaan semu yang justru tadak akan mendatangkan kebahagiaan haqiqi. Janganlah kita berbahagia terhadap hal-hal yang  justru tidak akan membuat kebahagiaan.9)

Cinta, bahkan dimaknai secara unik oleh kalangan sufi. Tentu cinta yang tidak pada lawan jenis melainkan kepada Sang Kekasih, yakni Allah SWT. Inilah cinta yang sesungguhnya. Abu Yazid al-Bustami menyatakan bahwa “Cinta adalah membebaskan hal-hal sebesar apapun yang datang dari dalam diri dan membesar-besarkan hal-hal kecil yang datang dari sang kekasih”. Sementara al-Junayd berkata bahwa “Cinta berarti merasuknya sifat-sifat Sang Kekasih ke dalam diri, mengambil alih sifat-sifat Sang Pencipta”. Bagi al-Junayd, keadaan ini menunjukkan betapa hati si pencinta direnggut oleh ingatan akan sifat-sifat Sang Kekasih, tak satupun yang tertinggal selain ingatan akan sifat-sifat sang kekasih, hingga si pencinta lupa dan tak sadar akan sifat-sifatnya sendiri. Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan bahwa “Cinta adalah kelezatan. Akan tetapi hakikatnya adalah kedahsyatan”. Rasulullah Saw memberikan isyarat akan keajaiban gejolak cinta ini dalam sebuah Hadis: “Cintamu pada sesuatu, membutakan dan menulikan.” (HR. Abu Dawud).10)

Adab Bergaul dengan Lawan Jenis

Menjadi manusia yang beriman kepada Allah SWT tentu tidak mudah, karena banyak godaan dalam mencapainya, dikarenakan balasan yang Allah SWT janjikan pun tidak terbandingkan dan semua orang pun menginginkannya. Sebaik-baiknya pemudi ialah pemudi atau fatayaat yang mampu menjaga dirinya dari godaan.11) Godaan-godaan untuk menjadi orang shalih/ah sering kali datang dan menggebu-gebu saat kita menginjak usia remaja, di mana pubertas seseorang ada di masa ini. Bukan hal yang mudah pula bagi remaja muslim untuk melewati masa ini. Namun sungguh sangat indah remaja yang mampu lulus melewati masa pubertas yang penuh godaan ini. Karenanya, sudah seharusnya kita bersabar dalam mengendalikan hawa nafsu. Imam al-Ghazali menuturkan; “Sabar adalah suatu kondisi psikologi tertentu dimana hati digunakan untuk mengendalikan nafsu”.12) Di sinilah kesabaran pemuda-pemudi seringkali kalah oleh nafsunya.

Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun, kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut, maka hal itu akan menjadi mala petaka yang amat besar, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai. Sudah Allah SWT tunjukkan dalam sebuah Hadis Rasulullah Saw; “Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga adalah dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim).13)

Sebagai hamba Allah SWT kita harus yakin bahwa kehormatan kita harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis, agar tidak ada madharat (bahaya) atau bahkan fitnah yang bisa muncul. Untuk itu, sebaiknya kita sebagai remaja memperhatikan dan menjaga adab dalam bergaul dengan lawan jenis. Diantara adab-adab itu adalah:14)

Pertama, jangan berkhalwat (berdua-duaan). TTM atau teman tapi mesra, ke mana-mana bareng, hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini, dimana batas-batas pergaulan di sekolah umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa kita sekolah di sekolah umum, jika tetap bisa menjaga adab-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, maka yang ketiga sebagai pendampingnya adalah setan. Dari Umar bin al-Khattab, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus). Ia membawakan sabda Nabi Muhammad Saw; “Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), karena setan adalah orang yang ketiganya. Siapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya, maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad).

Kedua, menundukkan pandangan. Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Banyak hal buruk yang timbul dari pandangan, karena pandangan yang disertai nafsu inilah pintu munculnya keburukan. Kalau pandangan itu cuma sekilas saja, spontanitas atau tidak sengaja, maka tidak menjadi masalah pandangan mata tersebut. Pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan, namun selanjutnya adalah haram.

Ketiga, jaga aurat terhadap lawan jenis. Jagalah aurat kita dari pandangan laki-laki/perempuan yang bukan mahramnya. Yang tidak termasuk mahram seperti teman sekolah, teman bermain, teman pena. Bahkan teman dekat pun kalau dia bukan mahram kita, maka kita wajib menutup aurat. Baiknya, pakailah busana yang sesuai kreteria 4T: Tutup aurat, Tidak transparan (tembus pandang), Tidak ketat dan Tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Apabila 4 kriteria ini sudah terpenuhi, maka pakaian itu sudah sesuai dengan ketentuan Islam.15)


Keempat
, tidak boleh ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan). Ikhtilat itu adalah campur baurnya seorang laki-laki dan perempuan di satu tempat tanpa ada hijab atau pembatas yang memisahkan mereka. Tanpa pembatas itu, masing-masing laki-laki atau perempuan bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Ikhtilat ini sangat potensial memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi kalangan remaja.

Kelima, menjaga kemaluan. Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah, karena dewasa ini banyak sekali remaja yang terjebak dalam pergaulan dan seks bebas. Sebagai muslim, kita wajib tahu bagaimana caranya menjaga kemaluan. Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar-gambar yang senonoh atau membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau menonton kisah-kisah percintaan. Juga tidak sering bercampur secara bebas dengan lawan jenis.

Taubat dari Pacaran    
Taubat adalah mencuci hati yang kotor dengan air mata dan membakarnya dengan kobaran api penyesalan.16) Tidak diragukan lagi bahwa taubat adalah sesuatu yang harus dilakukan bagi pelaku dosa, apalagi dosa tersebut adalah dosa besar semisal perzinaan akibat pacaran tanpa aturan. Di antara hal yang membuat dosa bisa menjadi besar adalah jika maksiat dilakukan terus-menerus. Contoh yang biasa dilakukan oleh kawula muda adalah pacaran, karena tidak ada pacaran yang lepas dari jalan yang haram dan merupakan jalan menuju zina.

Karena itu, untuk melindungi masa depan kita sebagai remaja, maka kita harus menjaga diri dari menjalin hubungan pacaran yang bisa jadi akibatnya akan merugikan diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat. Untuk itu, ada beberapa hal penting yang perlu diingat untuk memperbaiki kualitas diri kita. Pertama, berbagai sisi pacaran itu terlarang. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. al-Isra: 32). Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa pacaran yang dilandasi nafsu semata akan menggiring pada zina, karena hati bisa tergoda oleh kata-kata cinta. Tangan bisa berbuat nakal dengan menyentuh pasangan yang bukan miliknya yang halal.

Kedua, dosa mengharuskan taubat. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (Qs. At-Tahrim: 8). Ujung zina adalah penyesalan. Dosa apapun akan menimbulkan kerugian. Apalgi dengan berzina, maka selain berdosa, juga akan diselimuti oleh rasa penyesalan. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain, khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka, ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si perempuan hamil, si laki-laki dituntut tanggaungjawab. Akhirnya pusing kepayang dan yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “married by accident” (MBA).17)

Na’udzubillah min dzalik. Kita berlindung kepada Allah SWT dari keburukan-keburukan yang terjadi di masa remaja kita. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan dan menjauhkan kita dari berbagai kemaksiatan. Wa Allah alam.[]

Cikulur, 18 Maret 2013

*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 22 Maret 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community (Triping.Com), Penyiar Radio Qi FM 107.07, Siswi Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah.
1) Nurul H. Maarif, “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta” dalam Kumpulan Makalah S1 dan S2 UIN Jakarta 1998-2007, (Ttp.: T.Th.), h. 2.
2) Nurul H. Maarif, “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta”, h. 2.
3) Ini kutipan lagu yang dinyanyikan oleh H. Rhoma Irama.
4) NN, Tafsir Sepersepuluh dari al-Quran al-Karim (Ttp.: Jam’iyyah Da’wah Islamiyah, 1427 H), h. 87-88.
5) Imam al-Ghazali, Bidayatul Hidayah (Jakarta: Himmah, 2008), h. 172.
6) Nurul H. Maarif, “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta”, h. 2-3.
7) Nurul H. Maarif, “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta”, h. 3.
8) Nurul H. Maarif, “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta”, h. 3.
9) Nurul H. Maarif, “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta”, h. 3.
10) Taufik Rahman, Sex-Q Kecerdasan Seksual; Mengelola Syahwat Menjadi Energi Kreatif (Jakarta: Hikmah, 2006), h. 60-61.
11) www.remajamuslim.com
12) Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar (Jakarta: Alita, 2010), h. 7.
13) www.remajamuslim.com
14) www.remajamuslim.com
15) Ali Mustafa Yaqub, 25 Menit Bersama Obama (Ciputat: Pustaka Darus-Sunnah, 2011), h. 51. Tentang kreteria berpakaian yang mengedepankan 4T, lihat juga: Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), h. 124.
16) ‘Aidh al-Qarni, Menjadi Wanita Paling Bahagia (Jakarta: Qisthi Press, 2006), h. 123.  
17) www.remajaislam.com

DAFTAR PUSTAKA
1.    al-Qur’an al-Karim
2.    ‘Aidh al-Qarni. Menjadi Wanita Paling Bahagia. Jakarta: Qisthi Press, 2006.
3.    Ahmad Hidayat. Dahsyatnya Sabar. Jakarta: Alita, 2010.
4.    Imam al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Jakarta: Himmah, 2008.
5.    Maarif, Nurul H. “Gejolak Hati: Refleksi Tentang Cinta” dalam Kumpulan Makalah S1 dan S2 UIN Jakarta 1998-2007. Ttp.: T.Th.
6.    NN. Tafsir Sepersepuluh dari al-Quran al-Karim. Ttp.: Jam’iyyah Da’wah Islamiyah, 1427 H.
7.    Taufik Rahman. Sex-Q Kecerdasan Seksual; Mengelola Syahwat Menjadi Energi Kreatif. Jakarta: Hikmah, 2006.
8.   www.remajamuslim.com
9.    Yaqub Ali, Mustafa. Haji Pengabdi Setan. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006.
10.    Yaqub, Ali Mustafa. 25 Menit Bersama Obama. Ciputat: Pustaka Darus-Sunnah, 2011.

Share
Dibaca : 3321 kali
 

Comments 

 
# Muhamad Nurdin A M 2013-08-09 10:39
Artikel yang luar biasa, Komplit banget penjelasannya.. Izin share ya Mbak.. :)
Reply
 
 
# qi falah 2013-08-16 18:59
Silahkan. Semoga manfaat.
Reply
 
 
# firdaus 2013-11-29 14:39
luar biasa.
saya izin mencopy
trims
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh

DOWNLOAD BROSUR